Thursday, October 07, 2010

Yoghurt, Bangkit dari Bangkrut



Aditya Fajar
Yoghurt, Bangkit dari Bangkrut

Aditya Fajar, seperti tak pernah lelah membangun bisnis. Pekerjaannya sebagai marketing salah satu perusahaan di Jakarta, ia tinggalkan. Dalam berbisnis, berulang kali ia bangkrut, seiring itu pula ia tertatih untuk bangkit. Di ujung fajar, ia pun mendapat 'hidayah' untuk berbisnis yoghurt…
Teks: Cucun Hendriana/Foto: Rizki Rahmat

Perjalanan cinta mengantarkan Aditya Fajar, pria kelahiran Jakarta, sampai di kota Bandung, Jawa Barat, kediaman pujaan hati.

Di kota ini pulalah, Adit, begitu sapaan akrabnya, menjajal berbisnis. Dan bisnis yoghurt menjadi pilihannya. "Sekitar tahun 2008, pasca pernikahan, saya memulai bisnis ini.

Awalnya, saya ingin memberdayakan kaum ibu-ibu untuk produktif meski ada di rumah. Daripada nonton sinetron dan infotainment, kan mendingan bisnis," ujarnya berkisah.

Membuat yoghurt tidak bisa sembarangan dan harus melalui pelatihan untuk membuatnya. Karena jika tidak hati-hati, bukan kesehatan yang diraih tetapi malah penyakit. "Saya kursus membuat yogurt sampai 1,5 tahun dari teman saya, seorang Perancis. Memang tidak mudah, saya pun awalnya sering mengalami kegagalan," sahut Tarie, istri Adit.

Saat itu, yoghurt yang diberi nama délicieux ini mulai dipasarkan di berbagai toko dengan menggunakan sistem bagi keuntungan. Pelan tapi pasti, bisnisnya pun mulai bangkit. Peminatnya pun bertambah. Tak puas sampai disitu, Adit dan Tarie pun mengembangkannya dengan membuka kedai mungil yang khusus menjual yoghurt produksinya.

Namun terkadang nasib tidak seiring dengan keinginan. Usaha yang dirintisnya mengalami kebangkrutan. Hasil penjualan ternyata belum bisa menutupi biaya operasional, hingga akhirnya mengalami kebangkrutan. "Tahun 2009, saya dan istri akhirnya pindah ke Jakarta. Bukan hanya itu, saya pun membawa pindah bisnis itu ke Jakarta dengan nama Rumah Yoghurt," ucapnya.

'Fajar' di Atas Fajar

Kebangkrutan itu memaksanya untuk merenung. Hingga akhirnya 'fajar' itu datang, ia memutuskan untuk keluar kerja. "Saya keluar kerja berarti penghasilan saya nol. Saya bertekad untuk membangun bisnis yoghurt ini dari nol lagi. Dengan saya keluar kerja, waktu dan konsentrasi saya lebih banyak untuk ngurusin bisnis ini meski dengan modal seadanya, 2 juta rupiah," ucapnya berapi-api.

Tentu, bukan tanpa alasan ia keluar kerja, karena secara ekonomis penghasilannya berkurang. Namun prinsipnya yang terus menyala 'jika dijalankan dengan fokus, apapun bisa sukses' menggiringnya ke tepian kesuksesan.

Kini, meski usaha yang dijalaninya baru seumur jagung, keuntungannya sudah mulai kelihatan. "Alhamdulillah, dalam sebulan bisa sampai 6 juta-an dari hasil penjualan yoghurt ini.

Meski usaha yang saya jalankan masih tergolong home industry karena dipasarkannya pun di rumah. Jika di kantor, uang segitu bisa didapatkan dalam 3 bulan, dengan usaha ini hanya satu bulan.

Bisa dikerjakan sambil tiduran lagi," selorohnya sambil terkekeh-kekeh. Pemasaran di berbagai wilayah di Jakarta pun telah ia tembus. Meski produksinya masih kurang, hanya 150 cup dalam sehari. Dengan harga 6.000 rupiah pergelasnya, pelanggannya pun banyak berdatangan dari luar Jakarta semisal Bekasi dan Bandung. "Mudah-mudahan, saya bisa mengembangkan bisnis ini menjadi lebih besar. Karena bagi saya, tidak ada pilihan selain su

Sumber: Elshinta.com

1 comment:

Menuju Perubahan said...

artikelnya bagus, alangkah baiknya jika pemilihan warna dan font bisa diatur menurut selera mata pembacanya