Showing posts with label Mutiara Syeh Nazhim adil Al haqqani QS. Show all posts
Showing posts with label Mutiara Syeh Nazhim adil Al haqqani QS. Show all posts

Thursday, November 29, 2012

Mawlana Syekh Nazim (q) tentang Syah Naqsyband (q)


Imam ut Thariqah
Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband

Maulana Syaikh Nazim berkata tentang Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral),
Maulana Syaikh Naqsyaband, Imam ut Thariqah adalah Pir. Pir berarti Imam. Imam berarti Tiang. Dia adalah Tiang utama Tarekat kita. Semoga Allah memberkati Beliau dan memberkati kita semua di dunia ini dan akhirat kelak. Maulana Syaikh Naqsyaband berkata "Thariqathun isthufal khalqa jamii-an". Kita mencoba mengikut dan menjadi pengikut. Ini adalah cara yang mudah dan enak untuk menuju kekuatan.

Ada suatu mesin yang bekerja di depan rangkaian kereta api. Semua kerja yang berat dikerjakan oleh mesin itu. Dibelakang mesin itu ada beberapa gerbong yang bergabung bersama gerbong lainnya membentuk suatu rangkaian, tapi kekuatan utama berasal dari mesin itu, yaitu mesin yang berada didepan dalam rangkaian kereta api. Karena gerbong yang lain bergabung dengan mesin itu, mereka bergerak sesuai dengan arah dari mesin itu. Kemana saja mesin itu menuju rangkaian gerbong itu mengikuti. Walaupun rangkaian gerbong atau pengikut tidak punya kekuatan sendiri, tapi kemanapun mesin mengarah, mereka dapat menuju kesana juga. Mereka bisa juga berjalan menuju tempat tujuan mesin itu.

Karena itu, setiap Tarekat memiliki seorang Imam Tarekat. Imam-ut-Thariqah (Imam Tarekat) telah dikaruniai kekuatan untuk membawa kita dari asfala safiliina ilaa alaa illiyyiin, dari tingkatan terendah ke tingkatan tertinggi. Kalau hanya mengandalkan kemampuan diri kita sendiri mustahil kita bisa mencapainya. Anda tidak akan bisa terbang tanpa naik pesawat udara. Dengan menumpang pesawat udara Anda bisa menempuh perjalanan bahkan dari satu benua ke benua lainnya. Karena itu, Anda harus menggunakan sarana (tarekat) ini untuk beranjak dari maqam terendah Anda hingga ke maqam tertinggi yang mungkin dicapai.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) lahir di desa Qasr al-Arifan dekat Bukhara pada tahun 711 H/1317 M. Beliau dikabarkan telah menunjukkan berbagai keajaiban yang luar biasa sejak masa kecilnya. Ketika Beliau masih muda, Muhammad Baba as Samasi, seorang Syaikh dari Tarekat Naqsyabandi memintanya datang dan untuk memenuhi permintaan ini Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband berangkat ke kota Samas untuk berkhidmat kepada Maulana Syaikh Muhammad Baba as Samasi. Tentang kehidupan Beliau dalam periode ini Maulana Syaikh Bahauddin (ral), mengisahkan:

Bangun dari tidur setidaknya tiga jam sebelum subuh aku mengerjakan rangkaian shalat sunah dan setelah itu ketika dalam keadaan sujud aku memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk memberiku kekuatan untuk memikul Cinta Ilahiah Nya. Kemudian aku shalat subuh bersama Syaikh ku. Kelihatannya Syaikh mengetahui apa yang kuminta dalam sujudku, karena Beliau mengatakan kepadaku: Kamu harus mengubah apa yang kau minta dalam sujudmu, karena Allah Yang Maha Kuasa tidak suka hambaNya meminta kesukaran. Memang Dia memberi beberapa kesulitan kepada mahlukNya untuk menguji mereka. Hal ini berbeda. Seorang hamba tidaklah boleh meminta untuk diberi kesulitan-kesulitan karena hal ini tidak menunjukkan penghormatan kepada Allah. Karena itu ubahlah permohonan dalam sujudmu dengan berdoa "untuk hambaMu yang lemah ini wahai Tuhanku, karuniakanlah ridhoMu".

"Sepeninggal Syaikh Muhammad Baba Samasi aku pergi ke Bukhara dan menikah disana. Aku tinggal di Qasr al-Arifan dekat tempat tinggal Syaikh Sayyid Amir Kulal dalam rangka berkhidmat kepada Beliau". Menurut riwayat lama sebelumnya Syaikh Baba Samasi telah mengatakan kepada Sayyid Amir Kulal untuk mengasuh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband.

Maulana Syaikh Bahauddin (ral) mengisahkan pengalamannya. "Suatu ketika aku sedang melakukan khalwat bersama seorang kawan ketika tiba-tiba surga dan suatu pemandangan yang luar biasa ditampakkan didepanku. Dalam visi itu kudengar suara berkata "Tinggalkan semuanya dan datanglah ke Hadirat Kami sendirian". Aku mulai gemetar dan lari meninggalkan tempat khalwat ke suatu tempat yang ada sungainya dan melompat ke dalam sungai itu. Aku mencuci pakaianku lalu shalat dua rakaat dengan cara yang aku belum pernah melakukan sebelumnya karena aku merasakan sedang shalat dihadapan Hadirat Ilahi. Terjadi Penyingkapan (futuh) di hatiku dan itu merupakan pembuka atas segala sesuatu. Seluruh alam semesta lenyap dan aku tidak sadar akan apapun selain sedang shalat dihadapan Hadirat Ilahi".

Ada riwayat luar biasa lainnya yang dikisahkan Wali Agung Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral). Beliau bercerita "Pada tahap awal dari keadaan kertertarikanku aku ditanya mengapa aku menempuh jalan ini. Kujawab supaya aku mendapat kekuatan sehingga apapun yang kukatakan dan kuinginkan akan terwujud. Dijawab bahwa tidak bisa seperti itu, karena sesungguhnya apa yang Kami sabdakan dan yang Kami kehendaki adalah yang akan terjadi. Kujawab lagi bahwa aku tidak setuju dengan hal itu. Aku harus mampu berkata dan berbuat apapun yang kuinginkan, jika hal ini tidak bisa kudapat maka kenapa aku harus menempuh jalan ini? Lalu kuterima jawaban: tidak, sesungguhnya apapun yang Kami kehendaki Kami sabdakan dan apapun yang Kami kehendaki akan terwujud. Kujawab lagi apapun yang kukatakan dan kulakukan adalah jalan yang kutempuh. Setelah itu aku ditinggalkan sendirian.

Selama lima belas hari aku sendirian. Hal ini membuatku tenggelam dalam depresi yang mendalam. Lalu tiba-tiba saja terdengar suara "Wahai Bahauddin seperti yang kau inginkan maka Kami mengaruniaimu apapun yang kau inginkan". Aku memohon agar diberi jalan yang bisa langsung menuju Hadirat Ilahi. Lalu aku mengalami visi yang luar biasa dan mendengar suara yang mengatakan bahwa aku telah dikarunia apa yang kuminta".

Kisah ini luar biasa karena biasanya orang patuh pada Perintah Ilahi dan tidak meminta pemenuhan keinginan mereka sendiri. Biasanya tindakan menolak untuk mematuhi Perintah Ilahi dan memaksa untuk mendapatkan apa yang diingini akan dianggap tidak adab. Walaupun pada awalnya ditolak, permohonan Maulana Syaikh Bahauddin (ral) akhirnya dikabulkan. Permohonannya dikabulkan mungkin karena Beliau memohon untuk kemaslahatan orang banyak dan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Ada kisah lain yang tak kalah menariknya kala Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) diuji oleh Syaikh nya. Ini sungguh ujian yang berat. Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) menuturkan kejadian ini. "Suatu ketika aku berada dalam tarikan Ilahiah yang begitu kuat sehingga aku tidak sadar akan diriku dan berjalan tanpa menyadari apa yang kulakukan. Ketika malam tiba kulihat kedua kakiku berdarah akibat luka sobek dan tertusuk duri. Lalu kurasakan bahwa aku harus pergi ke rumah Syaikh ku, Sayyid Amir Kulal. Malam itu terasa sangat dingin dan gelap tanpa ada bulan dan bintang sama sekali. Untuk melawan dinginnya malam aku hanya mengenakan jubah tua terbuat dari kulit. Ketika sampai di rumah Syaikh ku, kulihat Beliau sedang bersama teman-teman dan para pengikut Beliau. Ketika Syaikh melihatku Beliau memerintahkan pengikutnya untuk mengusirku keluar dari rumah. Syaikh ku tidak suka aku berada di dalam rumahnya. Pengikut Syaikh mendatangiku dan membawaku keluar dari rumah. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini.

Terasa egoku akan mengalahkanku dan mengambil alih kendali perasaanku dengan mencoba meracuniku dengan menggoyah keyakinanku yang tulus pada Syaikh ku. Bagaimana aku bisa menanggung malu dan rasa terhina seperti ini? Lalu Rahmat Ilahi datang kepadaku sehingga aku mampu menanggung ini semata-mata hanya demi Allah dan demi Syaikh ku. Dengan tegas kukatakan pada egoku bahwa aku tidak akan membiarkan egoku membuatku kehilangan cinta dan keyakinanku pada Syaikh ku.

Lalu kurasakan depresi yang mendalam melandaku. Langsung kuarahkan diriku pada keadaan kerendahan hati, meletakkan kepalaku didepan pintu masuk rumah Syaikh dan berjanji bahwa aku tidak akan bergerak dari keadaan seperti itu sampai Beliau menerimaku lagi. Terasa salju dan angin dingin menyusup tulang yang membuatku menggigil dan gemetar menahan dinginnya malam yang kelam. Bahkan tak tampak cahaya bulan dan bintang sedikitpun pun untuk membuatku sedikit nyaman dan hangat. Tubuhku nyaris membeku. Hanya hangatnya cinta kepada Allah Yang Maha Kuasa dan kepada Syaikh ku saja yang menghangatkanku.

Aku menanti dengan tetap dalam keadaaan seperti itu hingga pagi hari. Lalu Syaikh ku melangkah keluar rumah dan tanpa melihatku kakinya menginjak kepalaku. Ketika Syaikh melihatku, dengan cepat dibawanya aku masuk ke dalam rumahnya dan dengan telaten serta penuh perhatian Beliau mencabuti duri dari kakiku. Beliau berkata "Wahai anakku, hari ini kau telah dihiasi dengan busana kebahagiaan dan Cinta Ilahi. Busana yang menghiasimu ini belum pernah dikenakan oleh siapapun, baik diriku maupun Syaikh-syaikh sebelumku. Allah dan Nabi Muhammad (sal) telah ridho kepadamu. Demikian juga Para Auliya dalam silsilah Rantai Emas, mereka semua telah ridho kepadamu".

Sambil mencabuti duri-duri dari kakiku dan membasuh luka di kakiku, Syaikh ku menuangkan kedalam hatiku pengetahuan yang belum pernah kualami sebelumnya. Lalu dalam visiku kulihat diriku memasuki rahasia dari Muhammadur RasuluLlah. Ini berarti memasuki rahasia dari ayat yang merupakan Realitas Muhammad. Setelah itu membawaku memasuki rahasia dari la ilaha illaLlah yang merupakan rahasia dari Keesaan Allah. Kemudian membawaku memasuki rahasia-rahasia dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa yang berada dalam rahasia dari Keesaan Allah. Tidak mungkin kata-kata bisa menerangkan keadaan yang kualami ini. Hal ini hanya bisa dialami dengan merasakannya melalui qalbu".

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) dididik oleh Syaikh Baba as Samasi dan Syaikh Sayyid Amir Kulal, keduanya merupakan figur Syaikh terkemuka dari Rantai Emas Tarekat Naqsyabandi. Beliau juga dididik langsung oleh Grand Syaikh terkemuka lainnya dari Rantai Emas yang sama (yang hidup tidak sejaman dengan mereka). Kejadian ini dikisahkan oleh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband dalam tuturan berikut: Pada awal mula langkahku menempuh Jalan Sufi aku biasa berjalan-jalan dimalam hari dari satu tempat ke tempat lain di desa Bukhara. Untuk belajar dari mereka yang sudah meninggal dunia aku banyak mengunjungi kuburan di kegelapan malam dan ini biasanya juga kulakukan di musim dingin. Suatu malam aku pergi mengunjungi makam dari Syaikh Ahmad al Kashghari dan membaca fatihah untuk Beliau. Di makam Beliau kutemui dua orang yang sedang menantiku. Aku belum pernah bertemu mereka sebelumnya. Mereka disertai seekor kuda. Mereka mendudukanku diatas pelana kuda itu dan mengikatkan dua buah pedang di pinggangku, lalu menuntun kuda ke makam dari Syaikh Mazdakhin. Kami lalu turun dari kuda dan memasuki makam dan mesjid dari Syaikh ini dan mulai melakukan meditasi (murakabah).

Dalam keadaan murakabah kulihat dalam dalam visiku tembok yang menghadap Ka'bah runtuh. Seorang laki-laki bertubuh raksasa kulihat sedang duduk diatas singgasana yang sangat besar. Aku merasa sangat familiar dengannya, sepertinya aku telah pernah bertemu dengannya sebelumnya. Kemanapun aku menghadapkan wajah kulihat orang ini. Disekeliling orang ini ada Syaikh Baba Samasi and Sayyid Amir Kulal berkumpul bersama dengan sekelompok besar orang yang hadir. Aku merasakan rasa cinta yang mendalam kepada laki-laki bertubuh besar ini dan pada saat bersamaan merasa takut padanya. Sosoknya memesona sekaligus menakutkanku dan keindahannya penampilannya menimbulkan rasa cinta dan ketertarikan. Aku bertanya pada diriku sendiri siapa sebenarnya lelaki agung dan bertubuh besar ini. Tiba-tiba kudengar seseorang yang berada disekitar lelaki itu berkata "Orang ini adalah Syaikh mu dan dialah yang menjagamu dalam jalur spiritualmu. Dia mengawasi jiwamu sejak masih berupa sebuah atom di Hadirat Ilahi. Kau telah dilatihnya selama ini. Namanya adalah Abdul Khaliq Al Gujduwani dan kumpulan orang yang terlihat disekelilingnya adalah para Auliya yang membawa rahasia-rahasia besarnya, rahasia-rahasia dari Rantai Emas". Lalu Syaikh Abdul Khalik mulai menunjuk masing-masing Syaikh yang ada disitu dan berkata "Ini adalah Syaikh Ahmad, ini Arif ar-Riwakri, ini Syaikh Ali ar-Ramitani, ini Syaikh mu Baba as Samasi yang memberimu jubah semasa hidupnya". Dia bertanya padaku "Apakah kau mengenalnya?". Kujawab "Ya". Lalu Beliau berkata "Jubah yang diberikannya kepadamu masih berada dirumahmu dan dengan perkenan Syaikh mu maka Allah Yang Maha Kuasa telah menghapus banyak kesulitan-kesulitan yang semestinya menimpamu".

Lalu terdengar suara lain yang berkata "Syaikh yang duduk diatas yang singgasana itu akan mengajarimu sesuatu yang kau butuhkan dalam menempuh jalan sufi ini". Aku bertanya kepada mereka apakah aku diperbolehkan menyentuh tangan Beliau. Setelah diijinkan aku memegang tangan Beliau. Lalu Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani mulai mengajariku tentang jalan sufi, permulaannya, pertengahan dan akhirnya. Beliau berkata "Kau harus menyesuaikan sumbu hakikat dirimu sehingga cahaya yang tak kasat mata akan diperkuat didalam dirimu dan rahasia-rahasianya menampak. Kau harus menunjukkan istiqomah dan harus menjaga Syariah Suci dari Nabi Muhammad (sal) pada apapun keadaanmu".

Beliau juga berkata "Kau harus meninggalkan kesenangan hidup duniawi dan menjauhi perbuatan bid'ah dan pusatkan dirimu hanya pada sunah-sunah Nabi Muhammad (sal). Kau harus menghayati dan menyelami peri kehidupan Nabi Muhammad (sal) dan para sahabatnya. Kau harus mengajak orang untuk membaca dan mengikuti tuntunan Qur'an baik siang maupun malam dan menegakkan shalat wajib serta semua ibadah sunah. Jangan sekali-kali memandang rendah bahkan pada hal-hal kecil dari perbuatan dan amal shalih Nabi Muhammad".

Begitu Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujduwani (ral) menyelesaikan ucapannya, wakil Beliau berkata padaku "Agar kau yakin bahwa visi yang kau lihat ini benar adanya Beliau akan mengirimu suatu pertanda". Dijelaskan bahwa hal-hal dan kejadian-kejadian tertentu akan terjadi sebagaimana mustinya terjadi dan pada saat yang telah ditentukan. Demikianlah kejadian-kejadian itu terjadi persis sebagaimana telah dikatakan kepada Maulana Syaikh Bahauddin (ral) yang kemudian juga berbuat persis sebagaimana Beliau diperintahkan, hal ini membuktikan kebenaran visi yang dialami Maulana Syaikh Bahauddin (ral). Beliau juga diminta untuk memberikan jubah Azizan kepada Sayyid Amir Kulal (ral). "Setelah visi itu berakhir aku pulang kerumah dan mencari jubah itu dan bertanya kepada keluargaku dimana adanya jubah itu. Mereka mengatakan kepadaku bahwa jubah itu sudah berada disana sejak lama, sambil membawa jubah itu dan menyerahkannya kepadaku. Aku mulai menangis didalam hati ketika melihat jubah itu".

Setelah memenuhi segala hal yang dikatakan dalam visiku, sebagaimana diperintahkan aku membawa jubah Azizan ke Syaikh Sayyid Amir Kulal (ral) dan memberikan padanya. Setelah terdiam beberapa saat Syaikh Amir Kulal berkata padaku "Aku diberitahu tentang jubah Azizan ini semalam yaitu bahwa kamu akan membawa dan menyerahkannya padaku. Aku diperintahkan untuk menyimpannya dalam sepuluh lapis selubung yang berbeda". Beliau lalu memintaku masuk ke dalam kamarnya dan mengajarkan serta menempatkan didalam hatiku zikir tanpa bersuara. Aku diminta untuk terus menerus berzikir seperti itu siang dan malam. Aku terus mengamalkan zikir ini yang merupakan bentuk tertinggi dari zikir.

Aku juga berguru kepada ulama-ulama lain untuk belajar Syariah dan sunah-sunah Nabi Muhammad (sal) dan juga mengkaji sifat-sifat Nabi Muhammad (sal) dan para sahabatnya. Sejak aku melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dalam visiku, hidupku mengalami perubahan besar. Semua yang diajarkan oleh Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) dalam visi itu bermanfaat bagiku dan membuahkan hasil. Ruh Beliau selalu menyertaiku dan mendidikku. Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) adalah salah satu dari beberapa Guru/Syaikh dari Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) walaupun Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) hidup dimasa sebelum jaman Maulana Syaikh Naqsyaband (ral). Hubungan ini dalam dunia sufi dikenal sebagai Hubungan Uwaisy, yang berarti bimbingan dan hubungan spiritual terjadi walaupun masing-masing berasal dari jaman yang berbeda. Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) juga merupakan salah satu Syaikh dari Rantai Emas Tarekat Naqsyabandi.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) juga mengikuti dan belajar pada Mawlana Arif ad-Din Karani selama tujuh tahun. Setelah itu Beliau mengikuti Maulana Kuthum Syaikh selama beberapa tahun. Beliau juga menyertai seorang darwis bernama Khalil Ghirani yang tentangnya Beliau berkata "Selama menyertai Syaikh Khalil Ghirani banyak pengetahuan baru yang selama ini tersembunyi mulai tersingkap di hatiku dan Beliau selalu menjagaku, memujiku dan mengangkat derajatku". Ada Kekasih Allah lainnya yang disebut oleh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) "Beliau memerintahkanku untuk menolong dan melayani orang miskin dan menolong mereka yang sedang hancur hatinya. Beliau memintaku untuk rendah hati dan bersikap toleran. Beliau juga mengatakan padaku untuk menyayangi hewan-hewan dan menyembuhkan sakit dan luka mereka dan memberi mereka makanan".

Maulana Syaikh Bahauddin Naqshband (ral) mengisahkan tentang kejadian lain yang masih berhubungan dengan jubah Azizan. "Suatu hari aku sedang berada di kebunku dan dikelilingi oleh murid-muridku. Aku mengenakan jubah Azizan. Tiba-tiba aku diliputi oleh rahmat dan tarikan surgawi dan kurasakan diriku dihiasi dengan busana sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa. Kurasakan diriku mulai gemetar sedemikian rupa yang tak pernah kualami sebelumnya sehingga aku tak mampu lagi berdiri. Lalu tampak olehku visi yang luar biasa dimana keberadaanku sama sekali lenyap (fana) dan aku tidak melihat apapun kecuali Wujud Tuhanku.

Lalu kulihat diriku keluar dari Hadirat Ilahiah-Nya yang tampak terpantul dari cermin Muhammadur RasuluLlah yang berbentuk sebuah bintang dalam samudra cahaya tanpa batas. Wujud luarku lenyap dan kusaksikan makna sesungguhnya dari la ilaha illaLlah Muhammadur Rasulullah. Kemudian kusaksikan makna sejati dari nama-nama Allah yang kemudian membawaku kepada Yang Maha Ghaib yang merupakan esensi dari nama Allah 'Huwa" (Dia). Begitu aku memasuki samudra ini jantungku berhenti berdetak dan hidupku berakhir. Aku berada dalam keadaan mati. Semua orang yang berada disekelilingku mulai menangis karena mengira aku sudah meninggal dunia. Akan tetapi setelah kitra-kira enam jam aku diperintahkan untuk kembali ke ragaku. Aku bisa menyaksikan ruhku kembali memasuki ragaku perlahan-lahan dan visi itu berakhir".

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) juga mengatakan kalau Beliau menerima rahasia-rahasia spiritual dari berbagai pihak dan khususnya dari Uways al-Qarani (ral) yang memberi pengaruh besar dalam hal meninggalkan keduniawian dan melekatkan diri Beliau kepada hal-hal spiritual (ukhrowi). Beliau berkata "Aku melakukan ini dengan menjaga sunnah dan perintah-perintah Nabi Muhammad (sal) sampai aku mulai menyebarkan hikmah dan dikarunia rahasia-rahasia Ilahiah dari yang Maha Esa yang tidak pernah diberikan pada seorangpun sebelumku".

Ada kisah menarik lainnya yang dituturkan oleh Wali Agung Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) mengenai kekuatan spiritual Beliau. Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) berkata: Suatu hari aku pergi ke gurun bersama salah satu muridku yang tulus yang bernama Muhammad Zahid. Kami mulai menggali tanah dengan menggunakan sebuah beliung (alat untuk menggali) dan pada saat bersamaan juga sambil membicarakan secara mendalam tingkatan-tingkatan pengetahuan. Sambil terus mengayun beliung pembicaraan kami terus berlangsung dan semakin mendalam. Lalu tiba-tiba muridku bertanya "Sampai batas apakah pencapaian ibadah?". Kujawab "Peribadatan mencapai suatu tingkatan dimana kau mampu menunjuk pada seseorang dan berkata "Matilah" dan lalu orang itupun mati". Ketika aku sedang mengatakan itu tanpa sadar sambil telunjukku menunjuk pada Muhammad Zahid. Ketika kukatakan kata "Mati" terjadilah hal yang mengerikanku yaitu muridku jatuh dan meninggal dunia. Waktu terus berlalu dari pagi sampai tengah hari dan muridku masih dalam keadaan mati. Pada saat tengah hari terasa sangat panas dan jenasah muridku mulai semakin memburuk karena panas yang sangat. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan merasa takut serta kebingungan. Yang bisa kulakukan adalah membawa jenasahnya ketempat teduh dibawah pohon. Aku lalu duduk mulai berfikir dan merenung akan apa yang harus kulakukan dalam situasi ini. Tiba-tiba muncul Ilham dalam pikiranku dan aku berkata sambil menunjuk pada jenasah muridku "Wahai Muhammad Hiduplah!" tiga kali. Timbul rasa legaku ketika perlahan-lahan nyawanya kembali ke tubuhnya dan secara bertahap muridku kembali ke kesadarannya. Dengan bergegas aku menemui Syaikh ku dan menceritakan kejadian itu. Syaikh ku kemudian berkata "Wahai anakku, Allah Yang Maha Kuasa telah memberimu suatu rahasia yang tak pernah diberikannya kepada siapapun".

Dihari-hari akhir masa hidupnya Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) lebih sering mengurung diri di kamarnya. Banyak orang yang datang mengunjungi Beliau. Semakin banyak orang yang berkunjung ketika sakit Beliau semakin parah. Saat ajal Beliau makin dekat, Beliau memerintahkan agar dibacakan Surah Yaasin. Selesai dibacakan Surah Yaasin Beliau mengangkat tangan sambil membaca Dua Kalimah Syahadat, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad (sal) adalah Utusan Allah. Dengan Syahadat ruh suci Beliau kembali kepada Allah. Ketika itu tanggal 3 Rabiul Awwal, 791 H/1388 M, pada hari Senin malam. Sesuai permintaannya Beliau dimakamkan di taman miliknya. Mengenai kejadian ini seorang Wali Agung masa itu Abdul Wahab asy-Syarani berkata: Ketika Syaikh dimakamkan di makamnya terbukalah untuk Beliau sebuah jendela ke surga, sehingga makamnya menjadi sebuah taman surga. Dua mahluk spiritual berpenampilan memesona datang dan memberi salam kepada Beliau sambil berkata "Kami telah menanti sekian lama untuk melayani Anda sejak Allah menciptakan kami dan sekarang waktunya telah tiba bagi kami untuk melayani Anda", terhadap ucapan ini Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) menjawab "Aku tidak butuh apapun selain Dia. Aku tidak butuh kamu, aku butuh Dia". Dengan cara seperti itu Beliau mangkat.

Itulah kisah kebesaran dari Pir atau Tiang dari Tarekat Naqsyabandi yang mulia. Tarekat ini sebelum jaman Beliau dikenal sebagai Tarekat Siddiqiyah. Setelah Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral), tarekat ini dikenal sebagai Tarekat Naqsyabandiyah.

Semoga Allah merahmati Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral).
Amiin.


sumber : milis muhibbun naqshabandi

Monday, July 09, 2012

Armageddon, Segera Pulang, Setiap Orang Harus Berada Dirumahnya

Armageddon, Segera Pulang, Setiap Orang Harus Berada Dirumahnya
Sultan Awliya Mawlana Syaikh Nazim Adil Haqqani qs
6 Juli 2012 - Lefke Cyprus



Bismillahir Rahmaanir Rahim

Ini adalah instruksi bagi murid setelah malam Laylatul Baraah, murid yang
berasal dari Eropa tidak diijinkan untuk mengunjungi dergah (Lefke Cyprus),
karena mereka bisa tertahan disini jika perang terjadi di bulan Ramadan. Dan
jika mereka tertahan disini maka mereka tidak akan bisa mengurus
keluarganya. Setiap murid agar tinggal dirumahnya bersama keluarganya.


Sampai Idul Adha mereka tidak diijinkan mengunjungi Lefke, dan bagi mereka
yang telah berada disini segera pulang kenegaranya. Demikian juga murid dari
Turki tidak diijinkan untuk ke Lefke. Jika terjadi perang, (maka tidak ada
pesawat maupun kapal yang dapat membawa kalian), dan kalian akan tertahan
disini dan menjadi berat bagi kalian, bukan berat bagiku. Bagi mereka yang
telah berada disini segera kembali hari Senin depan, area disini akan
menjadi berbahaya saat ini.


Ketika kalian kembali kenegaramu, maka lebih baik bagi kalian untuk tinggal
dipedesaan. Mereka sebaiknya tidak tinggal di kota besar. Bagi murid di
Cyprus, ini adalah rumah mereka, tetapi mereka yang datang dari Eropa, pintu
kami tertutup, ini adalah perintah. Setiap orang harus lebih banyak
berdzikir dirumahnya. Mereka dapat berdzikir di dergah dinegaranya bersama
Syaikh kalian.

Jika Syam telah terbuka maka kalian dapat pergi ke Syam, tunggu waktunya,
dan kalian tidak perlu ke Lefke, tetapi pergilah ke Syam. Dan mereka yang
telah berada di Syam, maka mereka harus tetap berada dirumahnya dan kunci
pintu rumah kalian. Dan ini adalah intruksi dari Nabi Muhammad
(saw),"Masuklah kerumah kalian dan kuncilah rumahmu, maka kalian akan aman".

Bagi mereka yang telah berada di Syam, kalian tidak perlu takut,
perbanyaklah beribadah, salat dan dzikir dan kunci pintu rumah kalian, jika
ada yang masuk maka tidak akan ada yang akan menyakiti kalian, karena banyak
Awliya di Syam yang akan melindungi kalian. Ini adalah perintah bagi kalian
yang berada di Syam.


Bagi mereka yang berada di Mesir, maka janganlah kalian turun ke
jalan-jalan. Mereka hanya boleh pergi ke Masjid, bagi pria dan wanita jangan
keluar rumah. Wanita harus senantiasa memakai jilbab jika mereka harus
keluar karena ini
merupakan perlindungan bagi kalian sehingga mereka tak bisa terlihat.
Tutuplah pintu rumah kalian dan kuncilah. Instruksi ini telah turun kedalam
hatiku terutama bagi mereka yang berasal dari Eropa. Aman Yaa Rabbi.

Bagi murid yang berasal dari Eropa, India, Iran segeralah kalian kembali
kerumah kalian, jangan berada disini. Dergah Lefke hanya untuk mereka yang
tinggal disini hanya bagi mereka warga Cyprus, mereka yang berasal dari
Eropa harus kembali pulang. Jika terjadi sesuatu maka kalian sebaiknya ke
Masjid Hala Sultan, jika kalian tetap disini, maka tidak ada yang
bertanggung jawab. Kami memohon perlindunganMu Yaa Allah, apa yang akan
terjadi setelah ini tak ada yang mengetahui.

Mereka sebaiknya pindah ke pedesaan, jangan berada di kota-kota besar. Bagi
mereka yang tinggal di Mesir, sebaiknya mereka pindah kepedesaan. Dan sangat
berbahaya khususnya di Mesir. Syam dan Turki saat ini sangat
berbahaya. Mereka yang tinggal di Istanbul sebaiknya segera pindah
kepedesaan karena akan berbahaya disana. Perintah ini berasal dari para
Awliya yang bertanggung jawab atas Istanbul. Jika mereka yang di Istanbul
tidak pindah, maka 95% Istanbul akan menjadi puing. Jika mereka tidak mau
mendengarkan, maka mereka akan binasa.


Bagi mereka yang berasal dari Amerika, Eropa, segeralah kalian kembali
kerumah kalian. Kerjakan awrad dzkir harian Naqshbandi dirumah kalian,
segera kalian kembali, dan jangan berada disini. Instruksi ini sampai
kedalam hatiku dipagi hari setelah malam Laylatul Baraah. Bukannya kami
tidak sanggup menerima kalian, bukan itu masalahnya. Kami mengatur disini
dengan barakah dan karunia Allah swt, tetapi ini adalah perintah bagi kalian
untuk segera pulang jadi ini merupakan point yang berbeda. Mereka dapat
menaikkan bendera Naqshbandi, dan jangan kalian takut.


Bagi penduduk Mesir, kalian jangan keluar dimalam hari. Tutuplah pintu dan
jendela kalian dan matikan lampu dirumahmu. Jangan biarkan rumah kosong
hanya dengan para wanita tanpa seorang pria yang menjaganya. Penduduk
Istanbul segeralah kalian pindah, karena sangat berbahaya bagi kalian,
karena Istanbul akan menjadi puing-puing. Kota tua di Istanbul akan aman,
tetapi bangunan lainnya (modern) akan hancur.

Waktunya sudah dekat dengan kedatangan Sahibul Waktu, Sang Pemilik Waktu
ini, Sayidina Mahdi as sudah sangat dekat kedatangannya dan akan ada Perang
Besar Armageddon, dan akan terjadi begitu banyak kehancuran. Orang Amerika,
Eropa mereka harus tetap berada dirumahnya sampai hari Raya Haji. Jagalah
anak lelaki dan perempuan kalian untuk tetap berada dirumahnya dan kunci
pintu rumah kalian. Dan lindungi rumah kalian dengan membaca Ayat Kursi
sebanyak 7x sebagai perlindungan sekeliling rumah kalian, maka tak ada
seorangpun yang dapat mengganggunya.

Seluruh murid yang berada disini baik dari Eropa Amerika dan bahkan Turki
mereka harus segera pulang esok hari, karena saya akan menutup dan mengunci
pintu dergah. Inilah instruksi yang kami terima. Saya sebenarnya tidak ingin
menutupnya, tetapi demikianlah perintah yang harus dilaksanakan. Para wanita
tetaplah dirumah kalian dan jangan ada pria bukan muhrim yang melihat
kalian. Ini adalah hukum syariat Allah untuk mempertahankan diri kalian.
Semoga Allah melindungi kalian semua. Informasikan seluruh perintah ini
dimulai dari besok.

Wahai penduduk Istanbul, cepatlah kalian segera keluar dari Istanbul, semua
kejadian mengerikan akan terjadi dalam waktu 6 bulan dari sekarang. Kakek
kami mengatakan hal ini, sangat berbahaya tinggal di Istanbul. Allahu Akbar
al-Akbar, Allahu Akbar al-Akbar.


Wahai Tuhan kami, kami hanyalah hambaMU yang lemah. Lindungilah kami Yaa
Allah. Fatiha. Waktunya sudah sangat dekat akhir dari serangan hebat di Syam
dan kerusuhan dijalan-jalan di Syam yang akan mengancurkan segala sesuatunya
dan semua akan musnah. Mereka tidak dapat menyerang dari sini kesana, tidak
mungkin karena telah tertutup. Mereka hanya dapat menyerang sampai wilayah
Jordan, dan mereka tidak dapat masuk lebih jauh. Jika mereka terus masuk
maka aku akan menghancurkan mereka. Saya memang tidak dapat berjalan saat
ini, tetapi aku dapat mencapai mereka dan menghancurkan mereka, Aman Yaa
Rabbi.

Bagi mereka yang dahulu aku ijinkan berada disini, maka sejak saat setelah
malam Laylatul Bara'ah ijin tersebut telah dicabut, kalian harus segera
pulang. Hingga seluruh masalah di Timur Tengah terselesaikan, kalian tidak
dapat berada disini, pulanglah dan kalian akan aman berada dirumah kalian
dengan perlindunganNya.


Wa min Allah at Tawfiq


------------------------------------

Rasulullah (s) menyebutkan di dalam suatu hadits, Rajab adalah bulannya
Allah, Sya'ban adalah bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku.

Sahabat yang diberkati Allah, Anas (r), melaporkan bahwa Nabi Muhammad (s)
ketika ditanya, "Puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadan?" Beliau
(s) menjawab, "Puasa di bulan Sya'ban untuk menghormati Ramadan."
http://naqshbandi.org/adab/etiquette_of_shaban.htmYahoo! Groups Links

Monday, July 02, 2012

i] Wahai Rakyat Mesir Banjir Besar Sudah Didepan Pintumu

----- Original Message -----
Sent: Sunday, July 01, 2012 10:57 PM
Subject: [muhibbun_naqsybandi] Wahai Rakyat Mesir Banjir Besar Sudah Didepan Pintumu



Wahai Rakyat Mesir Banjir Besar Sudah Didepan Pintumu
Sultan Awliya Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani qs
Lefke Cyprus 30 Juni 2012


Audzubillahi minas syaithanir rajim, Bismillahir Rahmaanir Rahim.

Kita hidup di akhir zaman, setiap orang harus mengetahui untuk apa dia diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Ketika dia meninggal kan ibadahnya maka berbagai musibah akan menimpa dirinya yang berasal dari langit. Semoga Allah swt melindungi kita semua dari berbagai bencana.

Wahai manusia, kembalilah kepada Tuhanmu, maka Dia akan menyelamatkanmu dari kesulitan dan penderitaan didunia dan hukuman di akhirat. Mereka yang meninggalkan ibadah kepadaNya, maka tidak ada kemanisan hidup didunia, akan akan ada hukuman di alam kubur dan di padang mahsar kelak. (hari penghakiman).

Wahai manusia, berusahalah untuk menyadarkan teman-temanmu, ini adalah sebuah pekerjaan yang lebih penting, urusan politik tidaklah penting, tetapi menyelamatkan saudara-saudaramu jauh lebih penting. Tidak ada kebaikan dari pemilihan umum, tidak ada kebaikan dari semua urusan dunia, seperti mengumpulkan harta karun dan uang tidak akan memberi keuntungan kepada kalian.

Wahai manusia, kalian telah meninggalkan jalan yang benar, jalan yang Haqq. Mereka meninggalkan jalan yang lurus maka apa yang akan terjadi kepada mereka? Hukuman dari surga yang tidak pernah mereka perkirakan akan menimpa mereka. Dan bencana itu tidak bisa dihindarkan lagi, kecuali bagi mereka yang selalu memohon ampunan Allah swt.

Wahai manusia hukuman Allah swt hanya dapat dihindarkan jika kalian mau kembali beribadah kepadaNya dan bertaubat. Jika mereka meninggalkan ibadahnya, maka hukuman surgawi pasti akan menimpa mereka. Allah swt berfirman,

"Qul huwa alqaadiru 'alaa an yab'atsa 'alaykum 'adzaaban min fawqikum aw min tahti arjulikum aw yalbisakum syiya'an wayudziiqa ba'dhakum ba/sa ba'dhin unzhur kayfa nusharrifu al-aayaati la'allahum yafqahuuna (Al-An'am ayat 65)
Katakanlah: " Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan/berperang) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)". (Al-An'am ayat 65).

Dan ini adalah sebuah kepastian bahwa hukuman surgawi akan menimpa mereka yang jahat dan dzalim. Allah swt akan memberikan balasan hukuman kepada mereka. Karena Allah Azza wa Jalla adalah "The Taker of Vengeance", Dia Sang Pemberi Hukuman". Wahai manusia, seriuslah dengan urusan ini yaitu dengan menuruti perintahNya.

Wahai manusia berilah perhatian yang serius dan jangan menganggap ringan Perintah Surgawi. Jika tidak, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan dirimu dan kalian akan merasakan keganasan sebahagian dari kamu yang berasal dari sebagian manusia yang lain (QS 6:65). Kita telah sampai ketitik yang sangat kritis ini.

Wahai manusia kembalilah kepada tuhanmu. Jagalah batasan-batasan dalam ibadah kepadaNya dan berikan waktumu untuk penghambaan dengan ibadah kepadaNya, maka Allah akan mengkarunaikan kepadamu rahmat kasih sayangNya dan menyelamatkan kita semua dari berbagai bencana yang akan datang dibumi ini, dan juga dari azab dan hukuman di akhirat kelak. Disebutkan oleh seorang Wali Allah (Ibnu Arabi qs), bahwa di Mesir akan terjadi banjir besar. Dan ini adalah salah satu tanda akhir zaman, maka berhati-hatilah kalian.

Wahai rakyat Mesir. kalian tak dapat lari kemanapun. Kalian tidak dapat merencanakan atau mempersiapkan sesuatu untuk menyelamatkan dirimu dari hukuman Allah dan kemarahan Ilahi ketika ia datang kepadamu. Sungai Nil akan meluap dan akan terjadi banjir besar yang akan menenggelamkan seluruh Mesir dan jumlah korban yang tenggelam tak dapat dihitung karena begitu banyaknya. Allah Yang Maha Mengetahui. Dan ini disebutkan juga oleh Imam Sya'rani qs dimana tinggi Banjir akan menutupi Menara Masjid Muhammad Ali, dan ini mengindikasikan tingginya banjir di Mesir. Maka waspadalah wahai hamba Allah, kembalilah kejalan Tuhanmu sehingga Allah swt akan memindahkan musibah dan kutukan bencana dari dirimu serta menahan bencana tersebut untuk tidak mengenai dirimu.

Semoga Allah swt melindungi kita semua. Ratusan bahkan ribuan orang akan tewas akibat Banjir Besar di Mesir. Yaa Allah selamatkan kami, Taubat Yaa Rabb. Wahai Ulama Mesir, nasehatilah para hamba Allah, dan selamatkan mereka. Kalian harus memberi peringatan dan menyelamatkan mereka dari bencana banjir ini, karena bencana ini sudah berada didepan pintu kalian.

Wahai manusia, tidak mungkin seseorang memerintah (mengatur) orang lainnya. Manusia mungkin bisa mengendalikan seekor keledai. tetapi mereka tidak dapat mengendalikan manusia lainnya. Kepemimpinan untuk mengendalikan atau mengatur manusia adalah dengan aturan Surgawi, berasal dari surga, bukan dari dunia ini. Karena itulah sejak awal dimulainya aturan dunia ini, hamba Allah, uamat manusia dipimpin oleh seorang Raja atau Sultan. Tetapi saat ini manusia ingin mengendalikan situasi dan mengatur manusia lainnya dengan mengikuti aturan setan. Dan setan membawa seluruh bangsa kedalam situasi yang sangat buruk.

Wahai rakyat Mesir, selamatkan dirimu, jangan menyibukkan dirimu dengan pemilihan umum untuk memilih seseorang sebagai pemimpinmu. Lebih baik kalian bertaubat dan kembali kejalan Allah. Maka Dia akan menyelamatkanmu. Kata-kata ini datang kedalam hatiku dibulan yang diberkahi, dimalam Jumat dibulan Sya'ban. Semoga Allah swt melindungi kita semua. Tawab tub alayna, Taubat yaa Rabb. 

Akan ada banyak kejadian buruk yang juga akan menimpa Turki. Akan terjadi perang besar, Malhamah  Kubra (Armageddon) di lembah Amuq. Tempat ini berada di Iskandariun, mereka menyebutnya Lembah Amuk. Ini adalah perang terbesar. Pasukan surgawi, mereka akan turun dari atas. Akan ada 80 bendera (divisi) menuju ke lembah Amuq. 80 Pembawa bendera akan datang dari negeri Syam (Damaskus Syiria), dengan pengertian satu bendera adalah satu divisi, bahkan jauh lebih besar dari sebuah divisi.

Akan ada pasukan tentara Muslim yang akan datang dari Damaskus (Syiria) dan mereka akan terbagi menjadi 3 bagian. Sepertiga bagian dari mereka akan syahid, sepertiga lagi akan desersi melarikan diri, dan sepertiga terakhir akan terus berperang dengan gigih sehingga mereka akan memperoleh kemenangan. Mereka akan berperang melawan Banu Asfar (Rusia), bangsa berkulit kuning dan pasukan Muslim akan mengalahkan Banu Asfar (Rusia). Dan mereka akan bergerak menuju Istanbul (Constantinople) dan kemudian Sayidina Mahdi as akan muncul, semoga Allah swt melindungi kami semua. Lindungi kami Yaa Rabbi, Yaa Allah.

Ini semua disebutkan didalam buku yang ditulis seorang Qutub. Dari Mesir akan datang seseorang yang sangat perkasa yang akan muncul dengan kekuatan yang besar, dan  namanya adalah Ahmad, dan dia akan menyerang dari Mesir ke Syiria. Dan orang ini akan memenggal kepala orang yang menolak Allah Azza wa jalla dan Ke Maha PerkasaanNya, dan juga mereka yang menolak untuk dipimpin oleh Raja dan Sultan. Dia akan memberantas orang-orang ini kemudian akan menaklukkan Syiria kemudian akan bergerak ke Lembah Amuq dan disanalah terjadi Armageddon (Malhamah Kubra), perang terbesar. Dan dikatakan bahwa pasukan muslim akan menang dan menggantikan orang yang menolak perintah Allah (swt) dan Nabi (saw), dia akan memenggal kepala mereka semua, dan tak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan dirinya. Kekuatan ini datang dari Syam (Damaskus).

Ini adalah hal yang sangat penting dimana semua umat manusia harus mengetahuinya. Dan dikatakan, ketika kekuatan Islam muncul kembali maka dimulai dari Mesir kemudian ke Syiria dan ini dikatakan "Mim", yang berarti Moskow, pasukan Rusia akan dibersihkan dari bumi ini. Tidak ada lagi kekuatan mereka yang tersisa. Mereka akan melarikan diri kenegaranya. Dan ini telah disebutkan dalam kitab-kitab tua dari Arab dan Turki.

Wahai manusia berhati-hatilah kalian, jagalah agamamu dan tingkah lakumu, jagalah adabmu, dan ibadahmu kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga akhiranmu akan berakhir baik (khusnul khatimah). Jika tidak, maka kau akan berada diantara milyaran orang yang akan binasa. Semoga Allah swt melindungi kami semua, Amin. Fatiha. Seseorang yang sangat kuat dari Mesir ini bernama Ahmad, dan pedangnya akan bersimbah darah dari "Mim", Moskow orang Bani Asfar (Rusia) dan mereka akan dikalahkan dan tak seorangpun yang akan tersisa. Wahai hamba Allah, janganlah kalian takut, semua telah dipersiapkan. Allah..Allah..Fatiha.

Wa min Allah at Tawfiq

Sunday, August 15, 2010

Pada Segala Sesuatu Ada Ayat yang Menunjukkan Keesaan Ilahi






Sultan al Awliya
Mawlana Shaykh Nazim
13 Juni 2010      Lefke, Cyprus


Dastoor yaa Sayiddee, madad yaa Sultan al-Awliya. (Mawlana Shaykh berdiri.)
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Azeez Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultaan Allah.
Barakah-barakah-Mu, wahai Tuhan kami, karuniakanlah barakah-Mu yang termulia, terpuji dan teragung bagi ia yang paling Kau kasihi yang telah Kau ciptakan bagi segenap makhluq-Mu; yang menjadi sebab sejati akan Kehendak Agung dan Surgawi Tuhan Semesta Alam, ialah Penutup para Nabi, Sayyidina Muhammad sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam. Dan kami memohonkan bagi seluruh hamba-hamba suci-Mu yang memiliki kedudukan-kedudukan surgawi di kehidupan ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan pada mereka lebih banyak lagi kehormatan dan kekuatan. (Mawlana Syaikh duduk).

Wahai manusia, wahai pemirsa kami, as-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Maasya Allah. Pertama-tama, dari tingkatan-tingkatan surgawi, tercurah pepujian dan kehormatan bagi orang-orang yang memahami kedudukan mereka sebagai hamba, dan mereka adalah orang-orang yang tawadu’, dan mereka tahu untuk apa mereka diciptakan, dan mereka begitu memelihara misi sejati mereka. Misi Manusia hanyalah untuk menjadi hamba-hamba bagi Pencipta mereka, Tuhan Semesta Alam. Allahu Akbar! (Mawlana Syaikh berdiri dan kemudian duduk).

As-salaamu `alaykum, pemirsa-pemirsa kami! Wahai para pemirsa! Jangan biarkan ada di antara kalian orang yang memata-matai kalian, karena Syaitan menyebar pembantu-pembantunya untuk memata-matai, “Untuk melihat apa yang dikatakan orang itu dan kekeliruan apa yang mungkin akan ia ucapkan, untuk dapat kita gunakan dan tunjukkan ke timur dan ke barat.” [1] Dan saya mengatakan bahwa Ia yang menaruh hamba ini (yaitu Mawlana Syaikh Nazim, red.) di sini, memberikan pula perlindungan Ilahiah-Nya bagi hamba tersebut, sehingga mata kalian tak dapat melihatnya, telinga-telinga kalian tak dapat mendengarnya, atau lidah-lidah kalian tak dapat berbicara melawan pernyataan-pernyataan Langit yang ia sampaikan. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengaruniakan pada kita Perlindungan Ilahiah-Nya.

Dan kita mengucapkan, A’uudzu billahi min asy-Syaithani `r-rajiim. Wahai Tuhan kami! Jauhkanlah diri kami dari Syaitan dan para pengikutnya. Selama mereka tidak menginginkan untuk mendengar Kebenaran, maka mereka tetap saja menjadi orang-orang yang tuli. Selama mereka tidak meminta untuk dapat melihat posisi yang benar, mereka tak akan dapat melihat, karena mereka adalah orang-orang yang buta. Dan lidah mereka tak dapat berbicara, karena mereka tak mampu memahami dan tak mampu pula mencegah pernyataan-pernyataan sejati ini mencapai Manusia [2]. Karena itulah, kami mengucapkan `A’uudzu billahi min asy-Syathani `r-rajiim. Itulah perlindungan bagi kita yang meliputi diri kita semua. Saat kita mengucapkan A`uudzu bullahi min asy-Syaithani `r-rajiim, mereka (Syaitan dan bala tentaranya, red.) tak akan dapat mendengar, mereka tak dapat berbicara, dan mereka tak dapat memahami. Dan kedudukan mereka berada di bawah level binatang. Mereka memiliki mata tetapi tak dapat melihat. Mereka memiliki telinga tetapi tak dapat mendengar. Mereka memiliki lidah tetapi mereka tak mampu berdiri dan menjadi saksi Kebenaran [3]. Dan kami datang, dan Allah Ta’ala (Mawlana Syaikh berdiri) meminta hamba-hamba-Nya untuk menjadi orang-orang yang jujur/siddiq dan menjadi saksi-saksi jujur akan Kebenaran, Kebenaran Abadi! (Mawlana Syaikh duduk).

Ya, tidaklah kita diciptakan melainkan untuk melihat Kebenaran, untuk mendengar Kebenaran, dan untuk menyaksikan Kebenaran, dan untuk memahami Kebenaran Surgawi. Sebagai manusia, kita telah diberikan penawaran Surga.
Dan kita mengucapkan Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. (Mawlana Syaikh berdiri). Wahai Tuhan kami, Engkaulah Tuhan kami. Karuniakanlah pada kami pemahaman, untuk dapat melihat, dan untuk dapat menjadi saksi atas Kebenaran Sejati. (Mawlana Syaikh duduk). Bahkan hewan-hewan pun, Wahai Manusia, mereka semuanya menyaksikan Kebenaran pada level mereka masing-masing. Demikian pula setiap atom juga menjadi saksi atas Kebenaran tersebut!

Fa fii kulli syai-‘in aayatun taduulu annahuu waahidun, suatu deklarasi Surgawi… fa fii kulli syai-in lahu aayah tadullu annahuu waahidun. Sahiih? Benar? Jika kalian menerima Nabi kalian sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam dan para pewaris beliau, maka mereka pun tidak akan membiarkan kalian membuat suatu kekeliruan, tidak! Mereka akan membenarkanmu. Karena itulah, terkadang beberapa inspirasi berdatangan, dan kemudian kami mengatakannya dengan cara yang berbeda. Mereka membuatnya lebih jelas bagi kita karena kita berserah diri pada mereka dan mereka bertanggung jawab saat mereka menaruh seorang hamba yang lemah ini untuk berbicara di hadapan segenap ummat. Mereka bertanggung jawab atas hamba lemah tersebut agar ia tidak membuat kekeliruan, dan mereka akan mengoreksinya sampai orang-orang yang mendengarnya memahaminya. Tidak penting, apakah kalian menuangkan susu ke suatu kendi yang besar, atau ke dalam botol kecil, atau ke dalam gelas atau cangkir, tidak masalah. Tampilan luar bukanlah hal yang penting. Yang terpenting adalah apa yang sesungguhnya berada di dalamnya, itulah yang penting. Adalah penting untuk membuat orang-orang memahami, menjadikannya seperti ini atau seperti itu.

Kita semua adalah pemirsa dan kita semua seperti murid-murid di suatu sekolah dasar, anak-anak kecil yang masih membutuhkan gurunya untuk membenarkan mereka. Karena itulah saat kita mengatakan sesuatu, kadang-kadang tampilan luarnya mungkin berbeda, namun apa yang dikandungnya tetaplah sama. Kalian dapat meminum air dengan tangan kalian, atau dapat pula meminum air itu dari suatu cangkir emas, kalian mungkin pula meminum air itu dari suatu kendi biasa, atau dari suatu kendi perak. Wadah luar tidaklah penting. Apa yang ada di dalamnya, itulah yang penting.

Karena itulah, kami mengoreksi apa yang barusan kami sampaikan, tidak masalah. Saya tidak mengetahui apa pun, merekalah [4] yang tahu dan mengamati apa yang kami ucapkan dan mengoreksinya supaya orang-orang memahaminya. Tetapi jika orang-orang yang menghadiri pertemuan atau asosiasi seperti ini, datang dan duduk, namun mengarahkan pemahaman mereka ke tempat lain, ke orang lain… maka apa yang akan mereka dapat pahami (dari pertemuan ini, red.)? Tak ada. Jadi, beradalah pada posisi kalian setiap kali kalian diminta untuk berada di situ. Ada banyak sekali instrumen di sini, dan jika orang-orang tersebut tidak merawatnya, tentu saja instrumen-instrumen tersebut tidak akan bekerja dengan baik. Namun, jika mereka merawatnya dengan teliti, model-model instrumen yang berbeda tidak akan menjadi masalah. Adalah penting untuk memahami, untuk mengerti.

Karena itulah, para masyayikh pembimbing kita mengamati posisi-posisi kita, apakah kalian datang kemari secara keseluruhan untuk mendedikasikan diri kalian di sini. Ataukah, sebagaimana mereka berkata, sebagian di antara yang hadir ini menaruh pemahaman mereka ke tempat lain, karena pusat pemahaman bukanlah di sini (Mawlana menunjuk ke kepala beliau), melainkan ada di hati/qalbu. Artinya orang-orang itu (yang mengarahkan perhatiannya ke tempat lain) hati mereka datang dan pergi, malah melakukan bisnis di timur dan barat. Lalu apa artinya mereka duduk di sini? Apa yang akan mereka dapatkan? Nol! Jika seperti ini (sambil memegang sebuah bel dengan bukaan cungkup mengarah ke bawah) tak sesuatu pun dapat mengisinya, tetapi jika kalian datang seperti ini (memegang bel dengan bukaan cungkupnya ke atas) maka kalian dapat mengambil sesuatu. Buatlah (bukaannya) lebih lebar!

Kapasitas fisik manusia, wujud fisik manusia tidaklah penting. Wujud fisik kita demikian kecil, tetapi kapasitas pemahaman kita dapat mencapai timur hingga barat, dari utara hingga selatan, dari Bumi hingga Lelangit! Karena itulah kita telah dimuliakan oleh Tuhan Semesta Alam, Allah `Azza wa Jalla (Mawlana Syaikh berdiri) dengan suatu kekhususan yang tidak dikaruniakan kepada satu pun makhluk lainnya. Inilah salah satu makna dari firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً
wa idh qaala rabbuka li'l-malaa'ikati innee jaailun fil `ardi khalifah,
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
(Quran Surah al-Baqarah 2:30)

(Mawlana Syaikh duduk). Seorang khalifah, untuk menjadi wakil.  Itulah titik terakhir yang mungkin untuk dicapai suatu ciptaan. Di luar itu, tak seorang pun dapat memahami apa yang dipahami Manusia. Tak ada satu makhluq lain pun yang dapat mencapai kemampuan kita, dan kapasitas yang kita miliki ini tidak pernah dikaruniakan kepada satu pun makhluk ciptaan lainnya. Al-`Azhamatu lillahi! Allahu Akbar wa lillaahi `l-hamd [5].
Karena itulah, Wahai Manusia, berusahalah untuk belajar! Kita harus berusaha untuk belajar. Namun, memang telah ditutup bagi diri kita, tidak ada pembukaan (fath). Jika suatu pembukaan muncul, tak berhingga jumlahnya samudera-samudera akan terbuka dalam ranah-ranah yang tak berhingga pula jumlahnya, dan keseluruhannya akan memberikan tanda-tanda yang mengarah kepada Keagungan Tanpa Batas, Keagungan Tertinggi, Pujian paling Agung, Kekuatan paling Akbar yang menjadi milik Tuhan seluruh ummat Manusia, Tuhan seluruh Ciptaan. Kapasitas diri kita demikian besar, bahkan sekalipun diri kita (secara fisik) adalah ciptaan yang kecil. Kapasitas diri kita meliputi seluruh alam semesta ini. Bahkan jika seandainya alam semesta ini memiliki ukuran yang jutaan atau triliunan kali, atau quadrilliun kali lebih besar, dan lebih besar, dan lebih besar dari alam semesta yang kita tempati sekarang ini, kita pun masih memiliki suatu kekuatan untuk menjangkaunya, untuk meliputinya. Allahu Akbar! Ini semua telah diberikan kepada kita. Allahu Akbar! Subhaan Allah, Sultaan Allah, Kariim Allah. (Mawlana Syaikh berdiri dan duduk kembali).
Manusia diciptakan dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Saat kita terlahir ke dunia ini, kita tidak tahu akan apa pun. (Sebenarnya) Mengetahui, tetapi belum dibukakan. Kita telah dikaruniai suatu kekuatan yang demikian dahsyatnya untuk memahami. Namun, jika kita melihat pada wujud fisik kita, kita mengatakan bahwa hal tersebut adalah tidak mungkin. Padahal, siapakah Tuhan Semesta Alam ini? Dia-lah Ia Yang membuat sesuatu yan tak mungkin menjadi mungkin! Allahu Akbar! Kita telah dikaruniai kekuatan tersebut, dan tidak hanya kekuatan, tetapi kita juga dikaruniai wewenang dan otoritas atas kekuatan tersebut, sehingga kita dapat menggunakan kekuatan itu pula.
Wahai Manusia! Dengarkanlah dan berusahalah untuk ternaungi oleh tajalli (manifestasi) Surgawi ini, dengan datang kemari. Berusahalah untuk berada bersama ruhaniyah (spiritualitas) diri kalian. Jika kalian menggunakan kapasitas fisik diri kalian, maka kalian tak akan mampu menggapainya. Tetapi Allah Ta’ala telah mengirimkan hamba-hamba suci-Nya, serta Khatamul Anbiya’, Stempel Para Nabi, Sayyidina Muhammad sallAllahu ’alayhi wa aalihi wasallam (Mawlana Syaikh berdiri dan duduk), untuk membuat suatu jalan atau membuat sejumlah jalan bagi Manusia untuk menggapai suatu pembukaan. Siapa yang datang dan memohon, para Nabi dapat membukakan bagi mereka. Tingkatan para Nabi yang memberikan pembukaan ini bagi manusia bergantung pada tingkatan orang yang memohonnya. Hakikat-hakikat seperti ini tak mungkin kalian pelajari hanya dengan membaca buku. Tidak, tidak. Kalian dapat mencapai samudera-samudera itu hanya melalui hamba-hamba Surgawi. Para Nabi nampak seperti manusia biasa, tetapi wujud sejati mereka berasal dari Surga. Cobalah untuk mengerti!

Wahai Manusia! Mereka datang dengan membawa kunci-kunci bagi kekayaan untuk setiap orang, karena setiap orang yang telah dikaruniai suatu bagian dari kekayaan Surgawi ini harus pula memiliki kunci suci; bukan sekedar kunci biasa, tetapi suatu kunci suci, dan kunci-kunci ini memiliki tingkatan-tingkatannya yang berbeda-beda. Jangan kira bahwa satu kunci dapat membuka segala sesuatunya, tidak! Ada tak berhingga banyaknya kunci untuk setiap sesuatu yang ada di Samudera-Samudera Hadirat Ilahi, yang akan terbukabagi para khalifah (wakil), untuk menunjukkan pada mereka sesuatu dari Keagungan Ilahi milik Tuhan Semesta Alam. Dan setelah itu, akan berhenti dan hanya ada satu untuk mencapai Hadirat Ilahi dan posisinya adalah 100% berbeda. Dia hanyalah Satu. Keesaan Tuhan Pencipta seluruh Ciptaan tak akan pernah menerima dua; Satu untuk satu.

Semoga Allah mengampuni diri kita, dan mengaruniakan pada kita sesuatu untuk kita pahami. Dan mereka membuat suatu wejangan seperti itu yang mungkin amat sulit untuk menjumpainya di buku mana pun. Dan setiap kitab suci pernah menyebutkan hal ini, namun untuk mencapai titik pemahaman seperti ini adalah musykil, suatu problem. Mereka mendatangi pintu masuknya dan mencoba berbagai kunci, tapi tak ada yang berhasil membukanya. Ada kunci-kunci khusus untuk setiap kekayaan surgawi yang dikaruniakan bagi para khalifah / wakil dan mereka boleh memakai kunci-kunci tersebut dengan seorang Malaikat, tidak sendirian. Mereka dapat memakai kunci tersebut dengan (bantuan) seorang malaikat atua dua atau tiga atau tujuh atau 70, dan bergantung pada kekuatan mereka, akan muncul kekuatan untuk suatu pembukaan.
Kita tidak tahu apa-apa! Kita tidak tahu apa-apa! Pengetahuan Ilahi adalah tanpa batas, tanpa akhir, dan karena Hari Pembalasan tengah mendekat, mereka memberikannya sekarang bagi kita agar kita dapat mencicipi sesuatu dari (pengetahuan) Ilaahiyyaat, Divinity, Ketuhanan, dan di bawah naungannya terdapat tingkatan-tingkatan Surgawi untuk mempersiapkan diri mereka mendapatkan apa yang mereka tak pernah bayangkan. Mereka berpikir bahwa Penciptaan ini cuma sekedar suatu kebetulan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala  memaafkan kita semua dan memberikan kepada kita suatu pemahaman yang dengannya kita dapat mencapai tingkatan-tingkatan Surga itu, dan dari situ kita dapat terus bergerak, berlanjut, berlanjut, dan terus berlanjut. Sang hamba bertanya, هَلْ مِن مَّزِيدٍ   Hal min mazeed? "Masih adakah tambahan?" (50:30) Dan malaikat pun menjawab, “Ya, pergilah dan cicipi, pergilah dan pahami, serta pergilah dan nikmati!”

Semoga Allah mengampuni kita semua demi kehormatan Penutup para Nabi, Sayyidina Muhammad sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam! (Mawlana Syaikh berdiri dan duduk). Kita memohon ampunan dan kekuatan bagi ruh kita untuk memahami.

Fatihah.

Jika kalian tidak datang ke sini, untuk apa kalian membuat saya berbicara?
(39 menit.)

(Mawlana Shaykh salat dua raka`at Salaat asy-Syukr.)

Catatan penerjemah:
[1]   Maksudnya ada di antara pemirsa suhbat yang menggunakan kekeliruan kecil dalam suhbat atau ucapan Mawlana Syaikh Nazim, untuk mempermalukan beliau dan mempermalukan pengikut tariqah dan tasawuf.
[2]   Lihat Al Quran Surah Al-Baqarah (2) ayat 18:
shummun bukmun 'umyun fahum laa yarji'uuna
”Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”
Juga dalam ayat 171 surat yang sama:
….shummun bukmun 'umyun fahum laa ya'qiluuna
” Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”
[3]   Lihat Al-Quran Surah Al-A’raaf (7) ayat 179:
“walaqad dzara'naa lijahannama katsiiran mina aljinni waal-insi, lahum quluubun laa yafqahuuna bihaa walahum a'yunun laa yubshiruuna bihaa walahum aadzaanun laa yasma'uuna bihaa, ulaa-ika kaal-an'aami bal hum adhallu, ulaa-ika humu alghaafiluuna”
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
[4]   Mawlana Syaikh Nazhim biasa menggunakan ekspresi ‘mereka’ untuk mengacu kepada rantai Masyayikh Naqsybandi hingga ke Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Hal ini antara lain sebagai bentuk kerendahhatian beliau, sekaligus muraqabah beliau. Wallahu a’lam bissawab.
[5]   Al-`Azhamatu lillah! Allahu Akbar wa lillaahi `l-hamd maknanya Keagungan adalah milik Allah! Allah lebih agung dari apa pun dan bagi Allah segala puji!

===============================================================

 In Everything There Is a Sign Indicating the Lord's Oneness
Sultan al Awliya
Mawlana Shaykh Nazim
13 June 2010      Lefke, Cyprus


Dastoor yaa Sayiddee, madad yaa Sultan al-Awliya. (Mawlana Shaykh stands.)
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Azeez Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultaan Allah.
Your blessings, O our Lord, give Your most glorious, most praised, and most majestic blessings for Your most beloved one who was just created for every creation; the real reason for heavenly and majestic demands of the Lord of Heavens, the Seal of Prophets, Sayyidina Muhammad (s). And we are asking for all holy ones that are belonging to heavenly stations in this life, may Allah grant them much more honor and power. (Mawlana Shaykh sits.)

O people, our attenders, as-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Mashaa-Allah. First, coming from heavenly levels, praisings and honor on those people who know they are servants and they are humble ones and they know for what they have been created and they are taking much more care for their real missions. The mission of Mankind is only to be servants for their Creator, the Lord of Heavens. Allahu Akbar! (Mawlana Shaykh stands and sits.)

As-salaamu `alaykum
, our attenders! O our attenders! Don't leave to be among yourselves spying people, because Shaytan is sending its spies for spying, "To look at what that one is speaking and what kind of wrong things he may say, and we may take that wrong one and make a show in the east and west." And I am saying that One who is making this servant to be here is putting heavenly protection on that one, so that your eyes are not able to see, your ears are not able to hear, or your tongues are not able to speak against heavenly declarations. May Allah Almighty grant us His divinely protection.

We are saying, a`oodhu billahi min ash-Shaytani 'r-rajeem. O our Lord! Make us far away from Shaytan and its followers. As long as they are not asking to hear Truth, they are deaf ones. As long as they are not asking to see what is the true position, they are not looking, because they are blind ones. And their tongues can't speak, because they are unable to understand and to prevent real declarations for reaching to Mankind. Therefore, we are saying a`oodhu billahi min ash-Shaytani 'r-rajeem. That is our protection, surrounding us. When we are saying a`oodhu billahi min ash-Shaytani 'r-rajeem, they can't hear, they can't speak, and they can't understand. And their positions are under the levels of animals. They have eyes but they can't see. They have ears but they can't hear. They have tongues but they are not able to stand up and to be witnesses for Truth. And we are coming and Allah Almighty (Mawlana Shaykh stands.) is asking from His servants to be true ones and be true witnesses for Truth, Eternal Truth! (Mawlana Shaykh sits.)

Yes, we have only been created for seeing Truth, for hearing Truth, for witnessing Truth, and for understanding heavenly Truth. We have been offered what is a heavenly offer for Mankind. And we are saying bismillahi 'r-Rahmani 'r-Raheem. (Mawlana Shaykh stands.) O our Lord, You are our Lord. Make us to understand, and to hear, and to be witnesses for real Truth. (Mawlana Shaykh sits.) Even animals, O people, all of them are witnessing Truth on their levels. And every atom is also witnessing.

Fa fee kulli shayin aayatun tadoolu annahu waahidun
, that is a heavenly declaration... fa fee kulli shayin lahu ayah tadullu annahu waahidun. Saheeh? True? If you are accepting your Prophet (s) and his inheritors, they are not leaving you on mistakes, no. They are correcting you. Therefore, sometimes some inspirations are coming, and when we are saying it in another way. They are making it more clear for us because we are surrendering to them and they are responsible when they are putting such a weak servant for addressing nations. They have responsibility for that weak servant not to make mistakes, and they are correcting until they are understanding. Doesn't matter, you may put milk in a big pot, or in a small pot, or in a glass, or in a cup, doesn't matter. Out-looking (appearance) is not important. What is important is what is really in it, that is important. It is important to make people to understand, to make like this, or make like that.

We are attenders and we are like students in primary school, small ones that the teacher is correcting, and therefore, sometimes we may say something, maybe its out-looking is different but what is contained in it is the same. You may drink water in your hand, you may drink water from a golden cup, you may drink water from an ordinary pot, or you may drink from a silver cup, the out-looking is not important, but what is inside is important.

Therefore, we are correcting, it doesn't matter. I know nothing, but they know and they are observing what we are saying and correcting it until people understand. But if people are attending such a meeting or association, coming and sitting, but renting their understanding somewhere else, to someone... what are they going to understand? Nothing. Therefore, be in your position every time that you have been asked to be in. There are so many instruments here and if those people are not taking care about them, they are not not working. But if they are taking care, the different models are not important, no. It is important to understand.

Therefore, our guides are looking at our positions. If you are coming here wholly, giving in such a way, and as they said, some of them are renting their understanding, because the center of understanding is not in here, (Mawlana points to his head) it is in the heart. That means their hearts  are going and coming, making business east and west, then what will it mean if they are sitting here? What can they take? Nothing. If like this (holding a bell upside down) nothing can fill in it, but if coming like this (right side up) then taking. Make it more wide!

Man's physical capacity, his physical being is unimportant. Our physical being is so small, but our capacity for understanding reaches from east to west, from north to south, from Earth to Heavens! Therefore, we have been honored by the Lord of Heavens, Allah Almighty (Mawlana Shaykh stands.) with such a qualification that no other creature has been granted. That is one meaning of Allah's saying:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً
wa idh qaala rabbuka li'l-malaa'ikati innee jaailun fil `ardi khalifah,
Behold, thy Lord said to the angels: "I will create a vicegerent on earth."
(2:30)

(Mawlana Shaykh 
sits.) a khalifah, to be deputy. That is the last point a creature may reach. Beyond that no one is able to understand what Man is understanding.  Not any other creation is reaching our ability, and our capacity has never been granted to any other creature.  Al-`Azhamatu lillah! Allahu Akbar wa lillaahi `l-hamd.
Therefore, O people, try to learn. We must try to learn. But yet we are closed, there is no opening. If an opening comes, countless oceans in countless territories will open, all of them are signaling endless majesty, most high majesty, most high praising, most high mightiness that belongs to the Lord of Mankind, the Lord of all Creation. Our capacity is so big even if we are such small ones. Our capacity is covering the whole universe. If such a universe may be many, millions or trillions, or quadrillions, bigger, bigger, bigger than this universe, and we have such a power to reach to them, to cover them. Allahu Akbar! That is granted to us. Allahu Akbar! Subhaan Allah, Sultaan Allah, Kareem Allah. (Mawlana Shaykh stands and sits.)
Man is created knowing nothing. When we were born we were knowing nothing. Knowing, but it was not opened. We have been granted such a power for understanding, but if we look at our physical beings, we say it is impossible. Who is the Lord of Heavens? He is that One making the impossible, possible! Allahu Akbar! We have been granted such a power and not only power, we have also been granted authority on power, and we can use that power also. 

O People! Hear and try to be under this heavenly appearance, coming here. Try to be with your spirituality. If you are using your physical capacity, you can't reach it. But Allah Almighty is sending His holy ones and the Seal of Prophets, Sayyidina Muhammad (s) (Mawlana Shaykh stands and sits.) to make a way or to make ways for Mankind to reach an opening. Who is coming and asking, prophets may open to them. The levels of the prophets, that which they are granting to people are according to the level of the people who are asking. And such realities you can't learn by reading books, no, no. You can reach to those oceans through heavenly ones. The prophets appear as Mankind but their real beings are from Heavens. Try to understand!

O People! They are coming with the keys for everyone's treasures, because everyone who has been granted such a grant from heavenly treasures must have the holy key; not an ordinary key, but a holy key, and the keys are in many different levels. Don't think that one key is opening everything, no. There are countless keys for everything from Divinely Presence Oceans, that will open for deputies, to show them something from the heavenly greatness of the Lord of Heavens. And beyond that, it will stop and there is only one for reaching the Divinely Presence and his position is just 100% different. He is only One. The Oneness of the Lord of all Creation is never accepting two; it is One to one.
May Allah forgive us and grant us something for understanding. And they are making such a speech that perhaps it is difficult to find in books, and every holy book has mentioned this, but to come to it is mushkil, a problem. They are coming up to the entrance and using different keys but not opening it. There are special keys for every heavenly treasure granted to the deputies and they may use it with an angel, not alone. They may use that key with an angel or two or three or seven or 70, and according to their powers comes the power for opening. We know nothing! We know nothing! Heavenly knowledge is never-ending and because the Last Day is approaching, they are granting it now to taste something about Ilaahiyaat, Divinity, and under it are heavenly levels to make them prepared for what they can never imagine. They are thinking that this Creation is such an accident. May Allah forgive us and give us such an understanding that we may reach to the levels of Heavens, that from there we may move, continue, continue, continue. The servant asks, هَلْ مِن مَّزِيدٍ   Hal min mazeed? "Is there any more?" (50:30) And angels respond, "Yes, go and taste, go and understand, and go and enjoy!"

May Allah forgive us for the honor of the Seal of Prophets, Sayyidina Muhammad (s)! (Mawlana Shaykh stands and sits.) We are asking for forgiveness and power to our souls for understanding. 

Fatihah.

If you are not coming here, for what are you making me to speak?

(39 minutes.)

(Mawlana Shaykh prays two raka`ats Salaat ash-Shukr.)